Antisipasi Dampak Corona, Menperin Dorong Industri Farmasi Manfaatkan Obat Modern Asli Indonesia

0

Cikarang – Penggunaan bahan baku lokal khususnya industri farmasi perlu ditingkatkan. Hal itu untuk menekan angka impor bahan baku obat-obatan, terutama dengan adanya perkembangan virus corona (Covid-19).

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, untuk menekan angka impor pemerintah akan mendorong percepatan substitusi produk impor farmasi dengan bahan baku lokal.

Agus meyakini, pemanfaatan bahan lokal diyakini bisa meningkatkan devisa negara dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Industri farmasi merupakan industri strategis yang berdampak pada kebutuhan masyarakat. Apalagi ketika terjadi wabah corona, di mana upaya kesehatan masyarakat meningkat tajam, sehingga kebutuhan obat-obatan juga naik,” kata Agus ketika tinjau di Pusat Riset Obat Modern Asli Indonesia di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences, Cikarang, Rabu(11/3/2020).

Dijelaskan Agus, wabah corona memberi dampak yang serius bagi industri farmasi. Untuk mengantisipasi itu Indonesia perlu mengantisipasinya dengan memanfaatkan bahan baku lokal.

“Farmasi itu menjadi salah satu industri yang terdampak dengan adanya wabah ini. Kebutuhan farmasi kita itu 60 persen bahan bakunya berasal dari China,” paparnya.

Oleh sebab itu, pemerintah melakukan sejumlah upaya untuk menekan pelemahan pertumbuhan ekonomi terutama dengan adanya perkembangan virus corona. Upaya yang diambil antara lain melalui percepatan industri substitusi produk impor sesuai dengan INPRES 6 tahun 2016.

Melalui langkah percepatan industri ini, pemerintah memprioritaskan pengembangan obat atau produk biologi berbahan baku makhluk hidup melalui Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).

Menperin menegaskan lagi bahwa industri farmasi merupakan salah satu industri nonmigas yang menjadi target pertumbuhan industri nasional.

“Karena itu kami sangat mengapresiasi langkah Dexa Group yang sudah siap hingga ke hilirisasi dengan Obat Modern Asli Indonesia, ini jelas mempunyai kandungan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) 100 persen,” katanya.

Menurutnya hal ini bisa dimaksimalkan dengan digunakannya OMAI di JKN. Selain itu bisa mendapatkan substitusi produk impor farmasi, pemerintah juga akan mendorong ekspornya. “Hal ini agar terjadi multiplayer efek yang semakin mendorong pertumbuhan ekonomi,” ucap Menperin.

Pimpinan Dexa Group, Ferry Soetikno menjelaskan, ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor, bisa dapat ditekan apabila pemerintah langsung merealisasikan aturan mengenai TKDN.

“Regulasi TKDN ini sejalan dengan Inpres 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan industri Farmasi dan Alat Kesehatan,” tegas Ferry.

Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), Raymond Tjandrawinata menambahkan, Dexa Group melakukan kegiatan riset di tingkat hulu dengan mengembangkan ketersediaan farmasi dan memproduksi Active Pharmaceutical Ingredients (API) yang berasal dari makhluk hidup.

“Di tingkat hilir, inovasi pengembangan dari DLBS ini menghasilkan beragam produk Fitofarmaka dan produk obat herbal terstandar,” jelas Raymond.

Lebih lanjut, Raymond mengungkapkan, industri memerlukan stimulus dari pemerintah untuk mendorong pengembangan produksi bahan baku dalam negeri baik di tingkat hulu maupun hilirnya.

“Industri farmasi harus mendapat dukungan untuk pengembangan bahan baku dalam negeri sebagai produk substitusi impor. Ini karena obat yang telah kami temukan, teliti, dan kami uji memiliki efikasi yang setara dengan obat-obatan berbahan baku kimia,” paparnya.

“Selain itu multiplier efek, ekonomi tidak akan berjalan cepat, apalagi kami memberdayakan para petani di berbagai daerah,” imbuhnya.

Raymond mencontohkan salah satu produk OMAI Dexa Group adalah Inlacin. Inlacin merupakan obat diabetes Fitofarmaka berbahan baku bungur dan kayu manis yang diperoleh dari petani di daerah Gunung Kerinci di Jambi.

“Produk ini telah teruji klinis dan memiliki efikasi yang sama dengan obat diabetes berbahan baku kimia seperti Metformin. Produk ini juga telah diekspor ke Kamboja dan Filipina,” katanya.

Lebih lanjut menurut Raymond, selain Inlacin produk Fitofarmaka lainnya adalah Redacid berbahan baku kayu manis yang bermanfaat untuk mengatasi gangguan lambung, Disolf berbahan baku cacing tanah yang bermanfaat untuk memperlancar peredaran darah, Stimuno yang merupakan produk imunomodulator atau peningkat imun berbahan baku meniran. Selain itu dia bilang masih banyak produk OMAI lainnya yang merupakan inovasi Dexa.

Untuk diketahui, Dexa Group adalah perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1969 di Palembang, Sumatera Selatan. Produk-produk Dexa Group tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga telah diekspor ke berbagai negara di empat benua yakni Afrika, Asia, Amerika, dan Eropa.
Sumber : Industri.co.id

Share.

About Author

Timred-Agk

Leave A Reply